Riessya’s Blog

No Farmasis No Servis

Pinang

Kingdom : Plantae

Division : Magnoliophyta

Class : Liliopsida

Order : Arecales

Family : Arecaceae

Genus : Areca

Species : A. catechu

imagesimages

Areca catechu L. (pinang) merupakan tanaman famili Arecaceae yang dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan batang tegak lurus bergaris tengah 15 cm. Buahnya berkecambah setelah 1,5 bulan da 4 bulan kemudian mempunyai jambul daun-daun kecil yang belum terbuka. Pembentukan batang baru terjadi setelah 2 tahun dan berbuah pada umur 5-8 tahun tergantung keadaan tanah. Tanaman ini berbunga pada awal dan akhir musim hujan dan memiliki masa hidup 25-30 tahun. Biji buah berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk dengan warna yang lebih muda (Depkes RI, 1989). Kegunaan biji pinang antara lain adalah untuk mengobati beri – beri, edema, malaria, cacingan taeniasis, fasciolopsiasis, perut kembung akibat gangguan pencernaan, bengkak karena retensi cairan (edema), rasa penuh di dada, luka, batuk berdahak, diare, terlambat haid, keputihan, memperkecil pupil mata (miosis) pada glaucoma. Biji buah pinang mengandung alkaloid, seperti arekolin, arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasine, tanin terkondensasi, tannin terhidrolisis, flavan, senyawa fenolik, asam galat, getah, lignin, minyak menguap dan tidak menguap, serta garam (Wang et al., 1996).

Nonaka (1989) menyebutkan bahwa biji buah pinang mengandung proantosianidin, yaitu suatu tannin terkondensasi yang termasuk dalam golongan flavonoid. Proantosianidin mempunyai efek antibakteri, antivirus, antikarsinogenik, anti-inflamasi, anti-alergi, dan vasodilatasi (Fine, 2000).

May 16, 2009 Posted by riessya | Tanaman Obat | | No Comments Yet

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza)

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Species : Curcuma xanthorrhiza ROXB

images

Nama Daerah (MMI)
Sumatra : Temu lawak
(Melayu): Jawa : Koneng gede
(Sunda) : Temulawak
(Jawa) : Temo labak ( Madura )
Indonesia : TemulawakSpecies lain dari kerabat dekat temu lawak adalah tanaman temu ireng (C. aeruginosa ROXB), temu putih (C. zeodaria ROSC.), dan temu kunyit (C. domestica VAL.). Temulawak mempunyai beberapa nama daerah, di antaranya adalah koneng gede (Sunda), temo lobak (Madura), dan Temu lawak (Indonesia).

Ekologi dan Penyebaran
Tumbuh di seluruh pulau Jawa, tumbuh liar di bawah naungan di hutan jati, di tanah yang kering dan di padang alang – alang , ditanam atau tumbuh liar di tegalan; tumbuh pada ketinggian tempat 5 m sampai 1500 m di atas permukaan laut.

Morfologi Tanaman
Batang


Batang temu lawak termasuk tanaman tahunan yang tumbuh merumpun. Tanaman ini berbatang semu dan habitusnya dapat mencapai ketinggian 2 – 2,5 meter. Tiap rumpun tanaman terdiri atas beberapa tanaman (anakan), dan tiap tanaman memiliki 2 – 9 helai daun.

Daun
Daun tanaman temulawak bentuknya panjang dan agak lebar. Lamina daun dan seluruh ibu tulang daun bergaris hitam. Panjang daun sekitar 50 – 55 cm, lebarnya + 18 cm, dan tiap helai daun melekat pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur. Daun berbentuk lanset memanjang berwana hijau tua dengan garis – garis coklat. Habitus tanaman dapat mencapai lebar 30 – 90 cm, dengan jumlah anakan perumpun antara 3 – 9 anak.

Bunga
Bunga tanaman temu lawak dapat berbunga terus-menerus sepanjang tahun secara bergantian yang keluar dari rimpangnya (tipe erantha), atau dari samping batang semunya setelah tanaman cukup dewasa. Warna bunga umumnya kuning dengan kelopak bunga kuning tua, serta pangkal bunganya berwarna ungu. Panjang tangkai bunga + 3 cm dan rangkaian bunga (inflorescentia) mencapai 1,5 cm. Dalam satu ketiak terdapat 3-4 bunga.

Rimpang
Rimpang induk temu lawak bentuknya bulat seperti telur, dan berukuran besar, sedangkan rimpang cabang terdapat pada bagian samping yang bentuknya memanjang. Tiap tanaman memiliki rimpang cabang antara 3 – 4 buah. Warna rimpang cabang umumnya lebih muda dari pada rimpang induk.
Warna kulit rimpang sewaktu masih muda maupun tua adalah kuning-kotor. Atau coklat kemerahan. Warna daging rimpang adalah kuning atau oranye tua, dengan cita rasanya amat pahit, atau coklat kemerahan berbau tajam, serta keharumannya sedang. Rimpang terbentuk dalam tanah pada kedalaman + 16 cm. Tiap rumpun tanaman temu lawak umumnya memiliki enam buah rimpang tua dan lima buah rimpang muda.
Akar
Sistem perakaran tanaman temu lawak termasuk akar serabut. Akar-akarnya melekat dan keluar dari rimpang induk. Panjang akar sekitar 25 cm dan letaknya tidak beraturan.

Kandungan Tanaman
Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid , mineral minyak atsiri serta minyak lemak. Tepung merupakan kandungan utama, jumlahnya bervariasi antara 48 – 54 % tergantung dari ketinggian tempat tumbuhnya, makin tinggi tempat tumbuhnya makin rendah kadar tepungnya. Selain tepung , temulawak juga mengandung zat gizi antara lain karbohidrat, protein dan lemak serta serat kasar mineral seperti kalium ( K ), natrium ( Na), magnesium (Mg ), zat besi (Fe), mangan (Mn ) dan Kadmium ( Cd). Komponen utama kandungan zat yang terdapat dalam rimpang temulawak adalah zat kuning yang disebut ” kurkumin” dan juga protein ,pati, serta zat – zat minyak atsiri.Minyak atsiri temulawak mengandung phelandren, kamfer, borneol, xanthorrizol, tumerol dan sineal. Kandungan kurkumin berkisar antara 1,6% – 2,22% dihitung berdasarkan berat kering. Berkat kandungan dan zat – zat minyak atsiri tadi, diduga penyebab berkhasiatnya temulawak.

Kandungan Zat Aktif Temulawak
Kurkumin, kurkuminoid, P-toluilmetilkarbinol, seskuiterpen d-kamper, mineral, minyak atsiri serta minyak lemak, karbohidrat, protein, mineral seperti Kalium (K), Natrium (Na), Magnesium (Mg), Besi (Fe), Mangan (Mn), dan Kadmium (Cd).

Mekanisme Kerja Kurkuminoid

  1. Kurkumin yang dapat menurunkan SGOT dan SGPT sampai tingkat normal.
  2. Kurkuminoid dalam temulawak dapat meningkatkan sekresi cairan empedu yang berguna untuk mengemulsikan lemak serta dapat menurunkan kadar lemak dalam darah dan hepatoprotektor.
  3. P-toluilmetilkarbinol dan seskuiterpen d-kamper untuk meningkatkan produksi dan sekresi empedu serta turmeron sebagai antimikroba.
  4. Minyak atsiri berefek merangsang produksi empedu dan sekresi pankreas serta mempunyai kemampuan sebagai bakterisid maupun kemampuan melarutkan kolesterol. Pada dosis tinggi, minyak atsiri dapat menurunkan kadar enzim glutamate Oksaloasetat transaminase dalam serum (SGOT) dan enzim glutamate Piruvat transaminase dalam serum (SGPT)

    Dosis Temulawak Sebagai Bahan Aktif Suatu Obat

    1. Sumiati Yuningsih, Jurusan Farmasi FMIPA UNPAD, 1991. Infus rimpang temulawak 10% b/v dengan dosis 6,8 dan 10 ml/hari dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT darah kelinci yang terinfeksi virus hepatitis B.
    2. Abdul Naser, Jurusan Farmasi FMIPA, UNPAD, 1987. Ekstrak temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah dalam keadaan hiperlipidemia, tetapi tidak berpengaruh pada HDL kolesterol.
    3. Robert Edward Aritonang, Jurusan Farmasi FMIPA, UNPAD, 1988. Pemberian kurkuminoid temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total dan bilirubin total. Product.
    4. Edhie Santosa Rahmat, SW Setianingrum, Fakultas Kedokteran UNDIP, 2006. Asupan oral ekstrak kasar temulawak dengan dosis 50 mg per hari selama 35 hari dapat meningkatkan nafsu makan pada penderita anoreksia primer kelompok dewasa muda.
    5. Boesro Soebagio, Sri Soeryati, Fauziah K, Jurusan Farmasi FMIPA UNPAD, 2006. Ekstrak rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dengan konsentrasi antara 1,9 – 7,6% b/v dalam sediaan krim dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis.

    May 12, 2009 Posted by riessya | Kuliah Pharmacy | | 1 Comment

    Berlico Mulia Farma PT

    Jln. Juwangen Kalasan Km. 10.6

    Tromol Pos No.8

    Yogyakarta 55571

    DI Yogyakarta

    Telp : 0274-496 446

    Fax : 0274-496 396

    April 27, 2009 Posted by riessya | Produsen Obat, Uncategorized | | 1 Comment

    PEMOTONGAN DNA DENGAN ENZIM ENDONUKLEASE

    images39

    TUJUAN

    Dapat mengetahui dan mempraktekan cara memotong DNA dengan enzim endonuklease.

    Pada tahun 1960, Werner Arber & Hamilton Smith menemukan enzim dari mikroba yang dapat memotong DNA utas ganda. Enzim tersebut sekarang dikenal dengan enzim restriksi atau endonuklease restriksi. Enzim tersebut mengenal dan memotong DNA pada sekuen spesifik yang panjang 4 sampai dengan 6 pasang basa. Enzim tersebut dikenal dengan enzim restriksi atau enzim endonuklease restriksi.

    Secara alami, bakteri menghasilkan enzim restriksi untuk menghancurkan DNA fage yang menginfeksinya (yang masuk ke dalam sel bakteri) Sampai saat ini sudah banyak jenis enzim restriksi yang telah ditemukan dan diisolasi dari berbagai spesies bakteri. Nama setiap enzim restriksi diawali dengan tiga huruf yang menyatakan nama bakteri yang menghasilkan enzim tersebut.
    Setiap enzim restriksi mengenal sekuens dan situs pemotongan yang khas. Enzim restriksi memotong DNA bukan pada sembarang tempat, tetapi memotong DNA pada bagian tertentu. Bagian pada DNA yang dikenai aksi pemotongan oleh enzim restriksi ini dinamakan sekuens pengenal. Suatu sekuens pengenal adalah urutan nukleotida (urutan basa) tertentu yang dikenal oleh enzim restriksi sebagai tempat atau bagian yang akan dipotongnya. Enzim retriksi (Endonuklease) adalah enzim yang berasal dari bakteri, yang dapat memotong rantai DNA (double stranded) atau RNA. Dalam bakteri enzim ini berfungsi sebagai perlindungan diri dengan cara memotong DNA pada sisi pemotongan tertentu.
    Salah satu contoh enzim retriksi adalah Enzim EcoRI yang telah diisolasi pertama kali oleh Herbert Boyer pada tahun 1969 dari bakteri Escherichia coli. Enzim Ecor! Memotong DNA pada bagian yang urutan basanya adalah GAATTC ( sekuens pengenal bagi EcoRI adalah GAATTC ). Didalam sekuens pengenal tersebut, Enzim EcoRI memotongnya tidak pada sembarang situs tetapi hanya memotong pada bagian atau situs anara G dan A.

    Pada DNA utas ganda, sekuens GAATTC ini akan berpasangan dengan sekuens yang sama tetapi berlawanan arah. Enzim EcoRI ini memotong setiap utas dari utas ganda tersebut pada bagian anatara G dan A. Sebagai akibatnya, potongan-potongan atau fragmen-fragmen DNA utas ganda yang dihasilkan akan memliki ujung berutas tunggal. Ujung seperti ini yang dikenal dengan istilah sticky ends atau cohesive ends.

    Berikut adalah contoh organisme-organisme penghasil Enzim retriksi
    NAMA ENZIM SEKUENS PENGENAL ORGANISME ASAL

    EcoRI G AATTC Escherichia coli
    HindIII A AGCTT Haemophilus influenzae
    HhaI GCG C Haemophilus haemolyticus
    TaqI T CGA Thermus aquaticus
    BsuRI GG CC Bacillus subtilis
    BalI TGG CCA Brevibacterium albidum
    NotI GC GGCCGC Nocardia otidis-caviarum
    BamHI G GATCC Bacillus amylolyquefaciens
    SmaI CCC GGG Serratia marcescens

    Berdasarkan cara pemotongannya Enzim retriksi digolongkan menjadi dua :

    a. Endonuklease, memtotong nukleotida dari arah dalam
    b. Eksonuklease memotong nukleotida hanya pada ujung atau dari arah luar

    Endonuklease dapat mengenal urutan atau sekuen nukleotida pendek, antara 4-8 nuklotida, yang sering dikenal dengan restrictionsite atau sisi pemotongan, atau situs pemotongan yang spesifik dan berbeda-beda.

    Secara umum berdasarkan hasil pemotongan DNA double strain denagn enzim endonuklease memilik dua bentuk yaitu hasil pemotongan sticky end (ujung runcing dan blund end (ujung tumpul seperti pada skema dibawah ini.

    Kemampuan memotong DNA pada sisi spesifik menjadi tonggak penting dalam pengembangan metode manipulasi DNA sekarang ini. Endonuklease restriksi merupakan enzim bakteri yang memotong DNA dupleks pada urutan target spesifik. Enzim ini dapat diperoleh secara komersial dari perusahaan-perusahaan produk bioteknologi. Penamaan enzim restriksi didasarkan pada sistem sederhana yang diusulkan oleh Smith and Nathans. Nama enzim (seperti BamHI, EcoRI) menunjukkan bahwa asal enzim, tetapi tidak menunjukkan informasi spesifisitas pemotongan. Sisi pengenalan enzim restriksi pada umumnya adalah urutan palindromik dengan panjang 4, 5, atau 6 pasang basa (pb) seperti AGCT (untuk AluI), GAATTC (untuk EcoRI), dan lain sebagainya.

    Masing-masing enzim restriksi memotong urutan palindrom pada sisi spesifik, dan dua enzim berbeda dapat mempunya urutan pengenalan yang sama, tetapi memotong DNA pada titik berbeda di dalam urutan basa tersebut. Ujung DNA hasil pemotongan enzim restriksi dapat dikelompokkan menjadi tiga ketergori: (1) ujung tumpul, (2) ujung lengkaet 5’ dan (3) ujung lengket 3’.

    Agarose gel elektroforesis atau southern analisis digunakan untuk memisahkan fragmen DNA berdasarkan berat molekulnya. Metode ini ditemukan oleh Ed sourthern pada tahun 1975. Metode ini digunakan untuuk mengidentifikasi fragmen DNA yang secara menyeluruh untuk mengetahui DNA sekuen. Sourthern hibridisasi juga disebut sourthern blotting digunakan untuk mengetahui perbandinagn antara genome dari suatu particular organisme dan dengan gen penanda atau gen fragmen (probe). Ini dapat menjelaskan apakah suatu organisme berisi pertikel gen dan mengandung informasi tentang pengorganisasian dan restriction map dari suatu gen.

    Langkah-langkah dalam analisis sourthern gen DNA pada organisme dipotong dengan enzim retriksi (endonuklease) menjadi fragmen-framen DNA lalu fragmen DNA tersebut dimasukkan pada gel agarose lalu dilakukan elektroforesis dengan mengalirkan arus listrik dari kutub negative ke positif kemudian hasil pemisahan DNA tersebut didenaturasi dalam suatu alkali dan ditransferkan pada membran nitroselulosa. Pada membrane fragmen DNA telah menjadi single stranded lalu dimasukkan kedalam larutan yang mengandungDNA probe, proses ini disebut DNA hibridisasi dengan kata lain DNA target danDNA probe membentuk suatu ” hybdrid” karena keduanya saling melengkapi sekuen dan juga dapat membentuk ikatan satu sama lain. DNA probe biasanya mengandung pelabelan radioaktif dengan γ- [32P] dan polynucleotide kinase sering dengan pemindahan 5′ phosphate dari probe dengan menggunakan alkaline phosphatase. Setalah itu membrane dicuci untuk menghilangkan ikatan probe yang non spesifik, kemudian dengan memajangkannya pada film sinar X akan terbentuk warna hitam apabila positif terbentuk ikatan antara DNA dan probe. Prose ini disebut autoradiography.
    Hal ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi ukuran DNA dan sejumlah fragmen gen kromosom dengan kekuatan yang sama dengan fragmen gen yang digunakan oleh probe.

    ALAT DAN BAHAN

    1. Mikropipet
    2. Inkubator
    3. Tabung Mikrosentrifuge
    4. Chamber Elektroforesis
    5. UV Transiluminator
    6. DNA plasmid hasil isolasi
    7. Enzim EcoR1
    8. Air deionizedsteril
    9. Buffer (high Salt)
    10. Agarose Loading Buffer TBE 1x (Tris-borate-EDTA)
    11. Ethidium Bromide (hati-hati dapat bersifat karsinogenik)
    12. Marker DNA

    CARA KERJA

    1. Tambahkan aquades deionized steril sampai volume mencapai 20µl (7,5 µl)
    2. Lalu di vortek hingga larutan tercampur dengan baik
    3. Inkubasi pada incubator suhu 370 C selam 1 jam

    April 26, 2009 Posted by riessya | Kuliah Pharmacy | | 2 Comments

    ISOLASI PLASMID DARI E.coli TRANSFORMAN DENGAN METODE ”MINI PREP”

    images38

    TUJUAN

    Tujuan praktikum yaitu untuk mengisolasi DNA plasmid pGem 3 zf dari bakteri E.coli dan menghitung konsentrasi DNA plasmid tersebut dengan menggunakan alat spektrofotometer UV.

    Bakteri E. Coli yang digunakan dalam transformasi gen atau lebih dikenal dengan istilah kloning gen, pada awalnya hanya mempunyai satu macam untaian DNA atau kromosom (kromosom genomik atau kromosom utama). Setelah ditransformasi dengan DNA plasmid rekombinan , maka bakteri tersebut mempunyai dua macam DNA yaitu kromosm genomik dan ekstra kromosom (DNA plasmid) yang mempunyai karakter yang berbeda. Untuk dapat mengisolasi kedua macam DNA tersebut digunakan metode yang berbeda. Dalam praktikum akan diisolasi DNA plasmid dengan mengunakan metode mini prep yaitu metode isolasi plasmid pada skala kecil.

    DNA rekombinan dibuat dengan cara sebagai berikut : Sepotong DNA dari organisme yang diminati, disambungkan ke dalam atau ke suatu plasmida ataupun pemakan bakteri lamda (disebut wahana atau vektor) dan molekul kimerik yang dihasilkan, masing-masing berturut-turut digunakan untuk mentransformasikan atau menginjeksi sel bakteri inang. Bakteri inang biasanya merupakan suatu galur khas E.coli yang tidak mampu memperbanyak diri tanpa kondisi biakan yang khusus.

    Agar sepotong DNA dapat diklonkan untuk penelitian, lebih dahulu DNA itu harus diikat pada suatu wahana kloning atau vektor. Salah satu tipe wahana kloning yang digunakan untuk percobaan ini adalah plasmid. DNA disambungkan pada DNA plasmid dan molekul kimeriknya digunakan untuk mengubah bentuk bakteri inang seperti E. Coli. Kemudian plasmid mengadakan replikasi dalam inang, sewaktu inang tumbuh dan membelah, dan potongan DNA yang diinginkan terklonkan.
    Plasmida adalah unsur genetik di luar kromosom (ekstrakromosoma) yang mengadakan replikasi secara autonom di dalam sel bakteri. DNA-nya berbentuk lingkaran dan beruntai ganda. Dan plasmida itu mendukung gen yang diperlukan baik untuk replikasi plasmida maupun untuk fungsi lain. Umumnya wahana plasmida mempunya densitas apungan berlainan daripada DNA inang dan dengan mudah dapat dimurnikan. Beberapa plasmida memiliki beberapa kemampuan untuk berintegrasi ke dalam kromosom inang, dan plasmida ini disebut episom.
    Setelah ditransformasi dengan DNA plasmid rekombinan, maka bakteri tersebut mempunyai dua macam DNA yaitu kromosom genomik dan ekstra kromosom (DNA plasmid) yang mempunyai karakter yang berbeda. Untuk dapat mengisolasi kedua macam DNA tersebut digunakan metode yang berbeda. Dalam praktikum akan diisolasi DNA plasmid dengan menggunakan metode mini prep, yaitu metode isolasi plasmid dalam skala kecil.Dalam sel bakteri, plasmida tunggal mampu memperbanyak diri untuk menghasilkan keturunan yang identik. Jika suatu plasmida mengandung gen manusia, maka kemudian gen itu ikut dibuat duplikatnya bersama molekul-molekul lain yang dikandungnya. Mengingat bakteri yang mengandung plasmida juga tumbuh dan membelah diri dengan kecepatan sekali setiap 20 menit, masing-masing sel anakan membawa bersamanya sedikit plasmida, yang kemudian memperbanyak diri lagi. Dengan cara demikian, dari satu bakteri dalam waktu singkat akan menghasilkan berjuta-juta keturunan.

    ALAT DAN BAHAN

    1. Mikropipet
    2. Mikrosentrifugasi berpendingin
    3. Tabung mikrosentrifugasi
    4. Spektrofotometer
    5. Media LB cair
    6. Larutan I yang terdiri dari :
    • 25 mM Tris-HCl pH 8,0
    • 50 mM Glukosa
    • 10 mM EDTA
    7. Larutan enzim lisosim yang dilarutkan dengan larutan (8 mg/mL).
    8. Isopropanol
    9. Larutan II yang terdiri dari :
    • 0,2 N NaOH
    • 1% SDS (Sodium dedocyl sulphate)
    • Larutan II harus dibuat dari larutan stok : 10 N NaOH dan 20% SDS, dan disimpan pada suhu ruang
    10. Larutan III (Larutan potassium asetat dilarutkan dengan 11,5 mL asam asetat glacial, kemudian tambahkan akuades sampai 100 mL. Simpan dalam lemari es.

    CARA KERJA

    1. 1,5 mL kultur bakteri
    2. Sentifuse pada 10.000 rpm, 40C, 5 menit
    3. Buang supernatan, + 1,5 mL kultur bakteri,
    4. sentifuse pada 5000 rpm, 40C, 5 menit
    5. Buang supernatan, suspensi pellet dgn 100 mikroLiter larutan I
    6. vortex
    7. Tambah 25 mikroliter lisozim, inkubasi 37 ‘C, 15 menit
    8. Tambah larutan II 400 mikroLiter, bolak balik, masukkan es 10 menit
    9. Tambah larutan III 300 mikroLiter, bolak balik, masukkan es 10 menit
    10. Sentrifuse 12.000rpm, selama 10 menit
    11. Supernatan 800 mikroLiter dipindah ke eppendorf baru + isopropanolol (480L¬)
    12. Inkubasi -20′C 15 menit
    13. Sentrifuse 12.000 rpm, 15 menit, buang supernatan
    14. Cuci pelet dengan 1 mL 70% etanol, sentrifuse
    15. Buang supernatan, keringkan pelet dengan pompa vakum
    16. Larutkan DNA plasmid dengan 50 mikroLiter buffer TE
    17. Ukur tingkat kemurnian dengan spektrofotometer UV

    April 26, 2009 Posted by riessya | Kuliah Pharmacy | | No Comments Yet

    TRANSFORMASI SEL KOPETEN DENGAN METODE HEAT SHOCK

    images37

    TUJUAN

    Mahasiswa mampu mempraktekkan cara mentransformasikan sel kompeten dengan metode heat shock.

    Transformasi merupakan proses untuk memasukkan DNA plasmid hasil dari konstriksi yang telah mengandung gen target ke dalam sel target. Proses transformasi ke sel bakteri pada umumnya menggunakan metode heat shock. Untuk mengisolasi plasmid dari E.coli transforman perlu dipahami terlebih dahulu bahwa sel bakteri terbungkus dalam membrane sitoplasma dan dikelilingi oleh dinding sel yang kuat. Pada beberapa spesies, termasuk E.coli, dinding sel mungkin dilapisi oleh membrane kedua sebelah luar. Semua barier tersebut harus dirusak untuk mengeluarkan isi sel.

    Pada bakteri Escherichia coli (E. coli) ini, proses transformasi gen merupakan salah satu langkah dasar yang penting. DNA merupakan molekul yang bersifat hidrofilik dimana secara normal tidak dapat melalui membran sel bakteri. Secara alami bakteri mempunyai kemampuan untuk menyerap (up take) untaian DNA yang diatur oleh serangkat gen (gen-gen kompeten). Namun, kemampuan ini baru dapat diekspresikan dalam kondisi tertentu, misalnya dalam kondisi stres nutrisi (nutritional stress). Secara artufucal (buatan) bakteri dapat dibuat kompeten dengan diperlakukan pada larutan kalsium klorida (CaCl2) dingin (0 C). Ion kalsium akan menetralisir aksi tolak-menolak antara muatan negatif dan bagian kepala fosfolipid dengan muatan negatif gugus fosfat DNA. Disamping itu juga CaCl2 dingin menyebabkan terganggunya struktur membran sel sehingga membentuk pori.
    Bakteri yang telah diperlakukan dengan CaCl2 dingin, lalu diperlakukan dengan suhu 42 C (heat shock) selama 90 detik (jika terlalu lama menyebabkan kerusakan membran sel sehingga bakteri akan mati). Pemanasan yang cepat pada suhu 42 C menimbulkan gradien panas yang menyebabkan aliran yang mengalir ke dalam sel yang memungkinkan DNA masuk ke dalam sel.

    Pembuatan kompeten sel bakteri berawal dari observasi Mandel and Higa (1970), dimana bakteri yang diperlakukan dengan kalsium klorida (CaCl2) mampu menyerap (up take) DNA bacteriophage lambda. Pada tahun 1973 Cohen, Chang dan Hsu mencoba memasukkan DNA plasmid pada bakteri yang dikompetenkan. Sampai sekarang untuk membuat kompeten sel banyak digunakan CaCl2 dingin dengan berbagai macam variasinya. Kemampuan bakteri yang telah kompeten untuk menyerap DNA adalah sangat singkat yaitu sekitar 1-2 hari, kecuali diperlakukan dengan penyimpanan yang benar.

    Transformasi gen ke bakteri selain menggunakan metode heat shock, dapat juga dilakukan menggunakan arus listrik yang dikenal dengan metode elektroporasi (electroporation) dengan menggunakan alat electroporator. Pada metode elektroporasi selain dapat untuk memasukkan DNA ke dalam sel, dapat juga untuk memasukkan molekul lain seperti protein. Namun penggunaan metode heat shock lebih murah dan mudah dibandingkan dengan metode elektroporasi.
    Tahapan selanjutnya dalam transformasi gen adalah seleksi bakteri tertransformasi. Untuk proses seleksi ini pada umumnya menggunakan antibiotik sebagai agen seleksinya. Macam antibiotik yang digunakan ditentukan oleh macam gen ketahanan antibiotik yang terdapat pada konstruksi plasmid yang digunakan. Pada umumnya transformsi pada bakteri menggunakan plasmid yang mempunyai gen ketahanan terhadap antibiotik ampisilin (Ampr). Metode seleksi dengan menggunakan antibiotik maka dalam media tumbuhnya harus mengandung antibiotik. Selain menggunakan antibiotik, biasanya dalam plasmiddd terdapat pula perangkat untuk seleksi yaitu gen lac Z.

    Gen lac Z adalah gen yang mengkode enzim β-galaktosidase yang menghidrolisis senyawa x-gal dengan membentuk warna biru. Bila gen lac Z disisipi oleh gen lain, maka gen lacZnya jadi rusak sehingga tidak lagi menghasilkan enzim β-galaktosidase dan tidak dapat menghidrolisis senyawa 5-bromo-4chloro-3indolyl-β-D-galactosidase (x-gal). Disini gen lacZ merupakan tempat untuk menyisipkan gen akan ditransfer atau sering disebut sebagai multiple cloning site (MCS). Bakteri yang telah ditransfer dengan plasmid dimana gen lacZnya telah tersisipi akan membentuk koloni warna putih, sebaliknya bila gen lacZnya belum tersisipi maka koloninya akan berwarna biru.

    Koloni yang berwarna putih adalah koloni bakteri transforman, sedangkan koloni berwarna biru bukan bakteri transforman atau tidak bertransformasi. Seleksi dengan metode ini disebut dengan blue white colony selection. Blue white colony selection merupakan salah satu cara dalam menseleksi bakteri yang telah berhasil ditransformasi.

    Untuk mengetahui bakteri mana yang telah berhasil ditransformasi plasmid hasil konstruksi yang memiliki gen untuk mengekspresikan sifat resistensi terhadap antibiotik tertentu, bakteri tersebut kemudian dikulturkan dalam medium yang mengandung antibiotik. Bakteri yang tidak berhasil ditransformasikan dengan plasmid hasil konstruksi tersebut akan mati karena tidak memiliki plasmid sehingga tidak resisten terhadap antibiotik. Bakteria yang dapat tumbuh akan dipisahkan antara satu dengan lain dan dibiarkan tumbuh membentuk koloni. Perlu diingatkan bahwa proses ini melibat beribu-ribu plasmid dan DNA sasaran yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar.

    Plasmid umumnya dalam bentuk larutan cair. Tidak semua plasmid dapat dikonstruksi dengan enzim restriksi. Walau dapat dikonstruksi, tidak semua plasmid dapat disisipkan dengan DNA target. Ada plasmid yang dapat dikonstruksi dan dapat menyatu kembali tanpa bergabung dengan DNA target. Walaupun ada plasmid yang dapat dilakukan penyisipan, tidak semua berhasil ditransfomasi ke dalam sel bakteri traget. Dengan ini perlu dilakukan seleksi untuk memilih hanya sel perumah yang hanya mengandung DNA rekombinan (rDNA). Saringan yang pertama dilakukan dengan menggunakan penanda saringan terhadap antibiotik. Andaikan plasmid yang dipilih mempuyai resitensi terhadap antibiotik ampicilin (ampR) dan lac Z sebagai tapak pemotongan enzim EcoRI yang digunakan untuk mensintesiskan b-galaktosidase jika melakukan lac operon. Sekiranya sel perumah gagal ditransformasikan vektor plasmid, maka sel perumah tersebut tidak mempunyai plasmid untuk daya tahan terhadap antibiotik dan sel perumah tersebut musnah.

    Dengan itu kita dapat memilih sel perumah yang mana ada vektor plasmid atau tidak. Masalah selanjutnya adalah adakah sel perumah tersebut mengandung plasmid yang telah telah dipotong oleh enzim pembatasan atau tidak. Pemecahannya adalah dengan dilakukan dengan mengkultur bakteria tersebut dalam medium X-gal (mengandung laktosa). X-gal akan berubah warna menjadi biru sekiranya menyatu dengan b-galaktosidase. Lac Z dipotong oleh enzim restriksi untuk tujuan penyisipan DNA sumber, dengan itu bakteria lac Z menjadi rusak dan tidak berupaya mensintesis bgalaktosidase dan akan menghasilkan koloni berwarna putih di dalam medium X-gal. Masalah ketiga adakah plasmid yang telah dikonstruksi oleh enzim restriksi tersebut akan disisipkan oleh DNA sumber atau plasmid tersebut timbul kembali tanpa bergabung dengan DNA sumber. Proses seterusnya ialah identifikasi gen melalui ‘genetic probe’. Genetic probe adalah segmen RNA atau segmen rantai tunggal DNA yang menjadi pelengkap kepada gen yang diperlukan dan telah ditandai dengan bahan radioaktif.
    Koloni sel perumah yang mengandung plasmid dipindahkan kepada membran nilon. Membran nilon akan diberi dengan ‘genetic probe’ yang akan berpasangan dengan bes-bes pada rDNA yang telah terbuka. Kemudian akan dibilas sekiranya bes yang tidak berikatan akan disingkirkan dan bes yang berikatan akan tetap berada dalam membran. ‘Genetic probe’ kemudian difoto dengan film x-ray. Dengan itu kita dapat memilih sel perumah yang mengandung DNA rekombinan.Plasmid umumnya dalam bentuk larutan cair. Tidak semua plasmid dapat dikonstruksi dengan enzim restriksi.

    Walau dapat dikonstruksi, tidak semua plasmid dapat disisipkan dengan DNA target. Ada plasmid yang dapat dikonstruksi dan dapat menyatu kembali tanpa bergabung dengan DNA target. Walaupun ada plasmid yang dapat dilakukan penyisipan, tidak semua berhasil ditransfomasi ke dalam sel bakteri traget. Dengan ini perlu dilakukan seleksi untuk memilih hanya sel perumah yang hanya mengandung DNA rekombinan (rDNA). Saringan yang pertama dilakukan dengan menggunakan penanda saringan terhadap antibiotik. Andaikan plasmid yang dipilih mempuyai resitensi terhadap antibiotik ampicilin (ampR) dan lac Z sebagai tapak pemotongan enzim EcoRI yang digunakan untuk mensintesiskan b-galaktosidase jika melakukan lac operon. Sekiranya sel perumah gagal ditransformasikan vektor plasmid, maka sel perumah tersebut tidak mempunyai plasmid untuk daya tahan terhadap antibiotik dan sel perumah tersebut musnah. Dengan itu kita dapat memilih sel perumah yang mana ada vektor plasmid atau tidak. Masalah selanjutnya adalah adakah sel perumah tersebut mengandung plasmid yang telah telah dipotong oleh enzim pembatasan atau tidak.
    Pemecahannya adalah dengan dilakukan dengan mengkultur bakteria tersebut dalam medium X-gal (mengandung laktosa). X-gal akan berubah warna menjadi biru sekiranya menyatu dengan b-galaktosidase. Lac Z dipotong oleh enzim restriksi untuk tujuan penyisipan DNA sumber, dengan itu bakteria lac Z menjadi rusak dan tidak berupaya mensintesis bgalaktosidase dan akan menghasilkan koloni berwarna putih di dalam medium X-gal. Masalah ketiga adakah plasmid yang telah dikonstruksi oleh enzim restriksi tersebut akan disisipkan oleh DNA sumber atau plasmid tersebut timbul kembali tanpa bergabung dengan DNA sumber. Proses seterusnya ialah identifikasi gen melalui ‘genetic probe’. Genetic probe adalah segmen RNA atau segmen rantai tunggal DNA yang menjadi pelengkap kepada gen yang diperlukan dan telah ditandai dengan bahan radioaktif.
    Koloni sel perumah yang mengandung plasmid dipindahkan kepada membran nilon. Membran nilon akan diberi dengan ‘genetic probe’ yang akan berpasangan dengan bes-bes pada rDNA yang telah terbuka. Kemudian akan dibilas sekiranya bes yang tidak berikatan akan disingkirkan dan bes yang berikatan akan tetap berada dalam membran. ‘Genetic probe’ kemudian difoto dengan film x-ray. Dengan itu kita dapat memilih sel perumah yang mengandung DNA rekombinan.

    ALAT DAN BAHAN

    1. Ependorf
    2. Water bath
    3. Shaker incubator
    4. Sentrifugase
    5. Mikro pipet
    6. Bakteri E. coli yang kompeten
    7. Vektor DNA pasmid
    8. LB cair
    9. LB padat yang mengandung IPTG, X-gal dan antibiotic.

    CARA KERJA

    1. Masukan 200 L Kompeten dalam tabung mikrosentifuse steril dingin
    2. Masukan DNA vector (plasmid) 0,1 mikrogram, campur dengan baik
    3. Inkubasi dalam es selama 30 menit
    4. Heat shock pada WB, 42 0C selama 90 detik
    (atau suhu 370C selama 5 menit)
    5. Tambahkan 800 mikroLiter LB cair kemudian
    inkubasi pada suhu 37 0C selama 45-60 menit dengan penggojokan
    6. Tumbuhkan bakteri hasil transformasi pada media LB padat
    yang mengandung antibiotik yang sesuai
    7. Ambil 50 dan 100 mikroLiter bakteri hasil transformasi dengan mikropipet steril
    masukan ke LB padat yang mengandung antibiotic
    8. Inkubasi pada suhu 37 0C, 24 jam
    9. Amati

    April 26, 2009 Posted by riessya | Kuliah Pharmacy | | No Comments Yet

    Pembuatan Kompeten Sel Bakteri

    images36

    Tujuan
    Membuat kompeten sel bakteri sehingga dapat menyerap DNA yang berbentuk sirkuler untuk proses transformasi gen.

    Dalam rekayasa genetika atau bioteknologi proses transformasi gen pada bakteri, khususnya pada Escherichia coli, membuat kompeten sel merupakan salah satu langkah yang penting. Tujuan proses kompeten sel adalah untuk mengkondisikan sel bakteri sehingga dapat menyerap DNA yang berbentuk sirkuler dalam proses kompeten sel.

    DNA adalah molekul yang bersifat hidrofilik dimana secara normal tidak dapat melalui membran sel bakteri. Secara alami bakteri mempunyai kemampuan ini baru dapat diekspresikan dalam kondisi tertentu, misalnya dalam kondisi stes nutrisi nutritional stess). Secara artificial (buatan) bakteri dapat dibuat kompeten dengan diperlakukan pada larutan kalsium klorida (CaCl2) dingin (0’C). Ion alsium akan menetralisis aksi tolak menolak antara muatan negatif gugus phosphat DNA. Disamping itu juga CaCl2 dingin menyebabkan terganggunya struktur membran sel sehingga membentuk pori.

    Pada proses kompeten sel membran sel bakteri akan membentuk suatu pori-pori yang dapat dimasuki oleh DNA sirkuler. Bakteri yang diperlakukan dengan kalsium klorida (CaCl2) mampu menyerap DNA bacteriophage . Kemampuan bakteri yang telah kompeten untuk menyerap DNA adalah sangat singkat yaitu sekitar 1-2 hari, kecuali diperlakukan dengan penyimpanan yang benar.

    Pembuatan kompeten sel bakteri berawal dari observasi Mandel dan Higa (1970), dimana bakteri yang diperlakukan dengan kalsium klorida mampu menyerap (uptake) DNA bakteriofage . Pada tahun 1973 Cohen, Chang dan Shu mencoba memasukan DNA plasmid pada bakteri yang dikompetenkan. Sampai sekarang untuk membuat kompeten sel banyak digunakan CaCl2 dingin dengan berbagai macam variasinya. Kemampuan bakteri yang telah kompeten untuk menyerap DNA adalah sangat singkat yaitu 1 – 2 hari, kecuali dengan penyimpanan yang benar.

    Membuat Kompeten Sel
    Pada peristiwa kompeten sel membran sel bakteri akan membentuk suatu pori-pori yang dapat dimasuki oleh DNA sirkuler. Bakteri yang diperlakukan dengan kalsium klorida (CaCl2) mampu menyerap DNA bacteriophage . Kemampuan bakteri yang telah kompeten untuk menyerap DNA adalah sangat singkat yaitu sekitar 1-2 hari, kecuali diperlakukan dengan penyimpanan yang benar.

    Transformasi Sel Kompeten
    Transformasi merupakan proses untuk memasukkan DNA plasmid hasil konstruksi yang telah mengandung gen target ke dalam sel target. Proses transformasi ke sel bakteri pada umumnya menggunakan metode heat shock, tetapi dapat juga menggunakan metode listrik secara elektroporasi. Penggunaan metode heat shock juga lebih murah dibandingkan dengan metode elektroporasi.

    Dalam proses transformasi gen ke sel bakteri, macam vektor plasmid yang digunakan harus diketahui karakternya dengan jelas, terutama sistem ekspresi dan macam gen ketahanan terhadap antibiotik yang digunakan. Pada umumnya, sistem ekspresi yang digunakan adalah sistem operon yang dapat diinduksi oleh senyawa tertentu. Kebanyakan operon yang digunakan adalah lactose operon yang dapat diinduksi oleh senyawa IPTG ( iso-propyl–thio-galaktosidase). Lac-operon digunakan untuk mengekspresikan gen yang mengkode enzim beta galaktosidase. Enzim ini akan mengkonversi senyawa 5-bromo-4-cloro-3indolil-beta-D-galaktosidase (X-gal) yang tidak berwarna menjadi derivat indigo yang berwarna biru.

    Apabila gen Lac Z disisipi oleh sekuen DNA tertentu, maka gen Lac Z-nya terputus sehingga enzim beta galaktosidase tidak terbentuk. Akibat tidak terbentuknya enzim beta galaktosidase, maka substrat X-gal tidak dikoversikan menjadi derivat indigo sehingga koloni tetap berwarna putih. Dengan demikian, koloni yang berwarna putih adalah koloni yang berhasil ditransformasi, .sedangkan koloni barwarna biru merupakan bakteri yang tidak tertransformasi. Seleksi dengan metode ini disebut dengan blue white colony selection. Blue white colony selection merupakan salah satu cara dalam menseleksi bakteri yang telah berhasil ditransformasi.


    Seleksi Bakteri Transforman

    Untuk mengetahui bakteri mana yang telah berhasil ditransformasi plasmid hasil konstruksi yang memiliki gen untuk mengekspresikan sifat resistensi terhadap antibiotik tertentu, bakteri tersebut kemudian dikulturkan dalam medium yang mengandung antibiotik tersebut. Bakteri yang tidak berhasil ditransformasikan dengan plasmid hasil konstruksi tersebut akan mati karena tidak memiliki plasmid sehingga tidak resisten terhadap antibiotik. Bakteria yang dapat tumbuh akan dipisahkan antara satu dengan lain dan dibiarkan tumbuh membentuk koloni. Perlu diingatkan bahwa proses ini melibat beribu-ribu plasmid dan DNA sasaran yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar. Plasmid umumnya dalam bentuk larutan cair.

    Tidak semua plasmid dapat dikonstruksi dengan enzim restriksi. Walau dapat dikonstruksi, tidak semua plasmid dapat disisipkan dengan DNA target. Ada plasmid yang dapat dikonstruksi dan dapat menyatu kembali tanpa bergabung dengan DNA target. Walaupun ada plasmid yang dapat dilakukan penyisipan, tidak semua berhasil ditransfomasi ke dalam sel bakteri traget. Dengan ini perlu dilakukan seleksi untuk memilih hanya sel perumah yang hanya mengandung DNA rekombinan (rDNA).

    Saringan yang pertama dilakukan dengan menggunakan penanda saringan terhadap antibiotik. Andaikan plasmid yang dipilih mempuyai resitensi terhadap antibiotik ampicilin (ampR) dan lac Z sebagai tapak pemotongan enzim EcoRI yang digunakan untuk mensintesiskan b-galaktosidase jika melakukan lac operon. Sekiranya sel perumah gagal ditransformasikan vektor plasmid, maka sel perumah tersebut tidak mempunyai plasmid untuk daya tahan terhadap antibiotik dan sel perumah tersebut musnah. Dengan itu kita dapat memilih sel perumah yang mana ada vektor plasmid atau tidak.

    Masalah selanjutnya adalah adakah sel perumah tersebut mengandung plasmid yang telah telah dipotong oleh enzim pembatasan atau tidak. Pemecahannya adalah dengan dilakukan dengan mengkultur bakteria tersebut dalam medium X-gal (mengandung laktosa). X-gal akan berubah warna menjadi biru sekiranya menyatu dengan b-galaktosidase. Lac Z dipotong oleh enzim restriksi untuk tujuan penyisipan DNA sumber, dengan itu bakteria lac Z menjadi rusak dan tidak berupaya mensintesis bgalaktosidase dan akan menghasilkan koloni berwarna putih di dalam medium X-gal.

    Masalah ketiga adakah plasmid yang telah dikonstruksi oleh enzim restriksi tersebut akan disisipkan oleh DNA sumber atau plasmid tersebut timbul kembali tanpa bergabung dengan DNA sumber. Proses seterusnya ialah identifikasi gen melalui ‘genetic probe’. Genetic probe adalah segmen RNA atau segmen rantai tunggal DNA yang menjadi pelengkap kepada gen yang diperlukan dan telah ditandai dengan bahan radioaktif.

    Koloni sel perumah yang mengandung plasmid dipindahkan kepada membran nilon. Membran nilon akan diberi dengan ‘genetic probe’ yang akan berpasangan dengan bes-bes pada rDNA yang telah terbuka. Kemudian akan dibilas sekiranya bes yang tidak berikatan akan disingkirkan dan bes yang berikatan akan tetap berada dalam membran. ‘Genetic probe’ kemudian difoto dengan film x-ray. Dengan itu kita dapat memilih sel perumah yang mengandung DNA rekombinan.

    Bahan dan alat
    1. Shaker incubator
    2. Water Bath
    3. Sentrifuse berpendingin
    4. Laminar air flow
    5. Mikropipet
    6. Autoclave
    7. Media LB cair yang terdiri dari (per liter) :
     10 gram tryptone
     5 gram yeast ekstract
     10 gram NaCl
     100 mM CaCl

    Cara Kerja

    1. Inokulasi 5 ml media LB cair steril dengan 1-2 koloni bakteri E. Coli dari media LB agar.
    2. Inkubasi kultur pada shaker incubator pada suhu 37 C , 100-150 rpm selama semalam dan digunakan sebagai standart.
    3. Inokulasi 50 ml media LB cair baru dengan biakan starter, keno b sampai OD600 = 0,3-0,5 ( diperlukan waktu 2-3 jam )
    4. Setelah OD600 mencapai 0,3 – 0,5 , ambil biakkan dari shaker incubator lalu dinginkan dalam es selama 10 menit
    5. Panen bakteri dengan sentrifugasi pada kecepatan 4000 rpm, 4 derajat celcius selama 5 menit.
    6. Supernatan ( bagian cair) dibuang dan pellet diletakkan dalam es.
    7. Suspensi sel diinkubasio bdalam es selama 30 menit, lalu sentrifuse pada 4000 rpm, 4 derajat celcius selama 5 menit, buang supernatant.
    8. Letakan sel dalam es lalu diresuspensikan dengan 1 ml 100 mM CaCl2 yang telah didinginkan.
    9. Inkubasi suspensi sel dalam es atau kulkas ( o-4 derajat celcius) selama paling sesdikit 1-2 jam atau selama 12-24 jam untuk meningkatkan efisiensi transformasi.
    10. Bagi suspensi sel ke dalam tabung mikrosentrifuse steril, lalu gunakan untuk proses transformasi atau dapat juga dibekukan dalam nitrogen cair untuk disimpan.

    April 26, 2009 Posted by riessya | Kuliah Pharmacy | | No Comments Yet

    Makan calon bayi manusia buat obat kuat, laknat tu orang2!(danger pic)

    bayi1-1
    Cerita ini ditulis oleh seorang wartawan di Taiwan sehubungan dengan adanya gosip mengenai makanan penambah kekuatan dan stamina yang dibuat dari sari/kaldu janin manusia.

    Healthy Soup yang dipercaya dapat mendapat stamina dan keperkasaan pria terbuat dari janin bayi manusia berumur 6 – 8 bulan. Salah seorang pengusaha pemilik pabrik di daerah Tong Wan , Taiwan mengaku sebagai pengkonsumsi tetap

    �Healthy Soup�..
    images35

    Sebagai hasilnya, pria berusia 62 tahun menjelaskan khasiat Healthy Soup ini mempertahankan kemampuannya untuk dapat berhubungan seks beberapa kali dalam semalam. Penulis diajak oleh pengusaha tersebut di atas ke salah satu restoran yang menyediakan Healthy Soup di kota Fu San – Canton dan diperkenalkan kepada juru masak restoran tersebut. Kata sandi untuk Healthy Soup adalah BAIKUT.
    bayi2-1

    Juru masak restoran menyatakan jenis makanan tersebut tidak mudah didapat karena mereka tidak tersedia ready stock. Ditambahkan pula bahwa makanan tersebut harus disajikan secara fresh, bukan frozen.

    Tetapi kalau berminat, mereka menyediakan ari-ari bayi (plasenta) yang dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual dan juga obat awet muda. Juru masak restoran tersebut mengatakan jika memang menginginkan Healthy Soup, dia menganjurkan untuk datang ke sebuah desa di luar kota dimana ada sepasang suami istri yang istrinya sedang mengandung 8 bulan. Diceritakan pula bahwa si istri sebelumnya sudah pernah mengandung 2 kali, tetapi kedua anaknya lahir dengan jenis kelamin perempuan. Jika kali ini lahir perempuan lagi, maka Healthy Soup dapat didapat dengan waktu dekat.
    bayi1-11

    Cara pembuatan �Healthy Soup�, seperti yang diceritakan oleh jurnalis yang meliput kisah ini adalah sebagai berikut:

    Janin yang berumur beberapa bulan, ditambah Pachan, Tongseng, Tongkui, Keichi, Jahe, daging ayam dan Baikut, di tim selama 8 jam, setelah itu dimasak selayaknya memasak sup.

    Beberapa hari kemudian seorang sumber menghubungi penulis untuk memberitahukan bahwa di Thaisan ada restoran yang sudah mempunyai stok untuk Healthy Soup. Bersama sang pengusaha, penulis dan fotografer pergi ke restoran di Thaisan untuk bertemu dengan juru masak restoran tersebut yang tanpa membuang waktu langsung mengajak rombongan untuk tour ke dapur.
    Di atas papan potong tampak janin tak bernyawa itu tidak lebih besar dari seekor kucing.

    Sang juru masak menjelaskan bahwa janin tersebut baru berusia 5 bulan, tidak dijelaskan berapa harga belinya, yang pasti itu tergantung besar-kecil, hidup-mati janin tersebut dan sebagainya (Masya Allah!!!)

    Kali ini, harga per porsi Healthy Soup 3,500 RMB karena stok sedang sulit untuk didapat. Sambil mempersiapkan pesanan kami, dengan terbuka juru masak tersebut menerangkan bahwa janin yang keguguran atau digugurkan, biasanya mati, dapat dibeli hanya dengan beberapa ratus RMB saja, sedang kalau dekat tanggal kelahiran dan masih hidup, bisa semahal 2.000 RMB. Urusan bayi itu diserahkan ke restoran dalam keadaan hidup atau mati, tidak ada yg mengetahui.
    Setelah selesai, Healthy Soup disajikan panas di atas meja, penulis dan fotografer tidak bernyali untuk ikut mencicipi, setelah kunjungan di dapur, sudah kehilangan semua selera makan, maka cepat-cepat meninggalkan mereka dengan alasan tidak enak badan.

    Menurut beberapa sumber, janin yang dikonsumsi semua adalah janin bayi perempuan. Apakah ini merupakan akibat kebijaksanaan pemerintah China untuk mewajibkan satu anak dalam satu keluarga yg berlaku sampai sekarang, atau hanya karena kegemaran orang akan makanan sehat sudah mencapai kondisi yang sangat terkutuk.

    Catatan:
    Sebagai manusia beragama dan berpikiran sehat, kita untuk apapun. Bangsa manusia adalah bangsa yang derajatnya paling tinggi dari mahluk di bumi ini, dan tindakan tersebut adalah tindakan yang sesungguhnya bukan berasal dari pemikiran manusia waras.
    memilukan hati.

    Sebagai manusia beragama dan berpikiran sehat, kita untuk apapun. Bangsa manusia adalah bangsa yang derajatnya paling tinggi dari mahluk di bumi ini, dan tindakan tersebut adalah tindakan yang sesungguhnya bukan berasal dari pemikiran manusia waras.
    memilukan hati.

    April 23, 2009 Posted by riessya | Keanehan di Muka Bumi | | 10 Comments

    Tips Membangun Bayi Menjadi ANAK SEHAT, KUAT, & CERDAS

    images34
    1.Setelah kelahiran bayi, pisahkanlah dari ibunya.

    2. Bersihkan dengan hati – hati, kemudian letakkan bayi dengan posisi tertelungkup di dada ibu dengan kepala bayi searah kepala ibu. Biarkan bayi melakukan INISIASI, yaitu upaya mencari puting payudara ibu untuk menyusu sendiri dengan ASI yang keluar pertama kali dari payudara ibu.

    3. Ingat, susu yang pertama kali keluar dari payudara ibu merupakan nutrisi makan terbaik untuk bayi yang mengandung AA, DHA, Taurin, Colostrum, dan vitamin lain yang dapat membangun pertumbuhan, kecerdasan dan kekebalan tubuh bayi terhadap serangan berbagai penyakit, dan ini tidak bisa digantikan dengan susu pengganti lainnya.

    4. Lanjutkan menyusui bayi dengan ASI selama minimal 6 (enam) bulan. Perluh diingat, selama periode itu sebaiknya tidak diberikan makanan maupun susu formula pengganti ASI.

    April 23, 2009 Posted by riessya | Tips - Tips Jitu | | No Comments Yet

    Cyclosporin A

    images112
    Pada pengobatan uveitis sering dipergunakan kortikosteroid dengan dosis imunosupresi dan dalam jangka waktu lama, yangdapat menimbulkan efek samping yang tidak diingini. Obat-obatsitostatika yang dipakai sebagai imunosupresan juga dapat menimbulkan efek samping yang lebih serius. Selain itu keduajenis obat tersebut tidak spesifik dalam menekan peradangan intraokular, sehingga sering terjadi kegagalan pengobatan yang akan berakhir dengan kebutaan. Maka perlu dicari altematif pengobatan yang lain yang lebih efektif dan aman. Siklosporin A (CsA) adalah salah satu obat imunosupresan yang relatif ban’ yang tidak menimbulkan efek samping terlalu berat dan bekerja lebih selektif terhadap sel limfosit T tanpa menekan seluruh imunitas tubuh; pada pemakaian kortikosteroid dan sitostatik akan terjadi penekanan dari sebagian besar sistem imunitas, seperti menghambat fungsi sel makrofag, sel monosit dan sel neutrofil. Selain itu CsA tidak menyebabkan depresi sumsum tulang dan tidak mengakibatkan efek mutagenik seperti obat sitostatika. Uveitis terjadi akibat hipersensitivitas tipe III (response imun-complex) seperti pada uveitis fakoanafilaktik dan vaskulitis pada penyakit Behcet, dan tipe IV (lambat) seperti pada Oftalmia simpatika, penyakit Behcet, sarkoidosis dan lain-lain. Tetapi Nussenblatt mengatakan bahwa peranan reaksi tipe III pada uveitis terbatas, sedangkan reaksi tipe IV sangat penting dalam menerangkan mekanisme penyakit peradangan intraokular.

    Mekanisme kerja siklosporin A dalam respons imun adalah spesifik dengan :
    1.Menekan secara langsung sel T helper subsets dan menekan secara umum produksi limfokin-limfokin (IL-2, interferon, MAF, MIF). Secara umum CsA tidal( menghambat fungsi sel B.
    2.Produksi sel B sitotoksik dihambat oleh CsA dengan blocking sintensis IL-2.
    3.Secara tidak langsung mengganggu aktivitas sel NK (natural killer cell) dengan menekan produksi interferon, di mana interferon dalam mempercepat proses pematangan dan sitolitik sel NK.
    4.Populasi makrofag dan monosit tidak dipengaruhi oleh CsA sehingga tidak mempengaruhi efek fagositosis, processing antigen dan elaborasi IL-1.

    Mekanisme kerja kortikosteroid dalam response imun :
    1.Secara invitro menekan blastogenesis sel T.
    2.Menekan produksi sel T sitotoksik secara langsung dan blocking sintesis limfokin/lymphotoxic factor.
    3.Menekan respons makrofag dan sel monosit, sehingga menekan aktivitas fagositosis, microbicidal, digestion intracellulare partikel antigen dan elaborasi plasminogen activation factor.
    4.Respons imun humoral (imunoglobulin) relatif resisten terhadap efek CsA.

    Mekanisme kerja sitostatika dalam respons imun :
    1.Menekan secara langsung produksi antibodi.
    2.Menghambat fungsi sel T sitotoksik.
    3.Menghambat fungsi sel T suppresor sehingga produksi antibodi berkurang.
    4.Populasi makrofag dan sel monosit relatif resisten terhadap sitostatika walaupun obat ini menekan produksi MAF dan MIF.

    Hasil penelitian prospektif CsA pada pasien uveitis yang re rakter terhadap pengobatan konvensional di RSCM memberikan hasil yang cukup baik dalam hal memperbaiki penglihatan dan menekan peradangan dengan efek samping minimal.

    April 23, 2009 Posted by riessya | Obat - Obat | | No Comments Yet