images22
Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT Asia-Afrika) diselenggarakan dengan promotor Indonesia, Burma (kini bernama Myanmar), Ceylon (kini bernama Sri Lanka), India, dan Pakistan.

Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia, dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme. Menjelang pembukaan pertemuan, Presiden Soekarno meresmikan penggantian nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka, Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwi Warna, dan sebagian Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika.

Usai Perang Dunia ke-II, dunia masih dicekam banyak masalah. Di utara, persaingan Blok Timur dan Barat kian mencemaskan. Di selatan, khususnya, di Asia Afrika, konflik masih gampang ditemui. Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfungsi menangani masalah-masalah dunia dianggap belum berhasil menyelesaikan persoalan tersebut. Keadaan itulah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan untuk menggelar Konferensi Asia-Afrika.

Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia mengirimkan wakil. Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam Dasasila Bandung, yang berisi “pernyataan dukungan bagi kedamaian dan kerjasama dunia”. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Konferensi ini akhirnya membawa pada semangat terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.(YUS/dari berbagai sumber)